Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Puisi : "Puisi"

Gambar
Puisi Puisi seperti suaraku yang mungkin tak akan pernah mampu sampai ketelingamu,  tapi ia memiliki kaki untuk berpulang dan berharap bisa menetap dihatimu.  Puisi layaknya perhatianku yang sering kamu tepis malu - malu,  tapi selalu jadi hal yang kamu tunggu - tunggu.  Puisi itu mirip tetesan air mata  bahagia ibu. Ingin aku menulis dan membacanya setiap waktu.  Puisi itu sama seperti aliran sungai,  selalu tertuju kepada muara,  untuk melapas kerinduan sebelum  kembali menguap menjadi awan.  Puisi itu bagai orang - orang yang aku sayangi,  menulis dan membacanya selalu membuatku bahagia.  Sama seperti mereka.  Yusuf Alfianto Cimahi, 29 Agustus 2017 Teruntuk orang orang yang aku sayangi,  khususnya adik perempuan ku : Aisyah Nur Hidyah.  Wahai Pendar gugusan bintang dibulan ketiga.  Semangat untuk hari - harimu.  Jaga selalu hati ibu....

Puisi : Langit Dan Kesatria

Gambar
Langit dan Kesatria.  Langit mulai mahir meniru, dia bisa jadi masakan ibu,  ejekan kawan dimasa lalu,  rasa bangga ayah yang disebunyikan,  atau mimpi masa kecil yang sempat terlupakan.  Langit juga rupanya mulai mahir menertawakan,  layaknya ungkapan cinta pertama yang dipendam  atau sekedar ucapan sayang pada adik perempuan yang selama ini ku bungkam Tapi langitpun mulai mengerti,  bersama rintik hujan yang mewaliki kecengengan kesatria, yang pada akhirnya  menemukan kembali jiwanya.  Kesatria itu akan selamanya dan sedari dulu yatim serta piatu,  sikapnya pembuat onar,  karena kesepian yang membuatnya gusar.  Langit mendung disertai rintik rintik ramah mulai membasuh jiwanya,  kesepian berubah jadi sunyi yang menenangkan,  kekecewaan jadi senyum penerimaan  dan sumpah serapah  hilang, lenyap, hangus  dan tumbuh menjadi rasa tabah dan pasrah,...

Review Novel ‘’Angan Senja Dan Senyum Pagi’’

Gambar
Judul                    : Angan Senja Senyum Pagi Penulis                  : Fadh Pahdepie Halaman              : 353 Hal Penerbit                : Falcon Publishing Tentang Angan Senja Yang Tak Bisa Melupakan Senyum Pagi. Setelah gagal ikut PO karena kebentur tanggal tua dan gak bisa dateng pas ada bedah bukunya di Bandung gara gara kebentrok kuliah di Bekasi Akhirnya dapet juga nih buku dan jujur ini adalah salah satu buku yang dimana saya gak mau cepet cepet sampai di halaman terakhir , karna ya begitulah seperti beberapa karya kang Fadh yang sudah saya baca   seperti : ‘’Jodoh’’ dan ‘’Sehidup Sesurga’’ pemilihan diksi dibuku ini sangan indah nan puitis tapi amat mud...

PERANAN KHADIJAH SAAT RASULULLAH MENERIMA WAHYU PERTAMA

Gambar
Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi istrinya lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat: فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا “Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.” Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami. Melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah (rasulullah). Dari peristiwa ini setidaknya dapat kita petik dua pelajaran tentang menjalani kehidupan berumah tangga. Peranan istri dan juga keterbukaan suami. Dua hal yang menjadi penyebab langgengnya rumah tangga. Pertama: Khadijah memerankan peranan utamanya sebagai istri. Ia menjadi tempat berbagi untuk suami. Ia mampu membuat suami yang sedang dirundung gundah menjadi tenang. Khususnya ketika menghadapi masalah besar. Allah ﷻ telah menyebutkan sifat demikian dalam firman-Nya, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِ...

Tangisan Rasulullah di Padang Mahsyar, Memohon Syafaat Untuk Umatnya

"Tuhanku, Penguasaku, Penghuluku, aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dari-Mu” Pernahkah terbayang olehmu, seorang lelaki mulia, yang hidup di tengah kematian demi kematian orang yang dicintainya. Ia diasingkan kaumnya, terusir dari tanah airnya. Ia dihina, disakiti, tapi tinggi tangannya terangkat memohon “Ya Allah, jika mereka tidak menerima da’wah, jadikanlah anak keturunan mereka kelak orang-orang yang menyembah-Mu”. Pernahkah terbayang olehmu, seorang lelaki mulia..yang harus menggantungkan batu di perutnya demi menahan lapar. Ia akan makan di lantai layaknya seorang budak, padahal raja-raja dan para kaisar memandang penuh iri pada kekokohan masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Ia, Lelaki Mulia itu, Muhammad Bin Abdullah, Rasulullah SAW. Pernah suatu ketika Beliau SAW bersabda: “Setiap Nabi memiliki satu do’a yang tidak akan tertolak. Dan aku menyimpannya untuk umatku di padang Mahsyar nanti”. Duhai.. betapa Ia begitu mencintai ...

Rindu

Lantas bagaimana dia yang tak bisa lagi aku temui? Yang jejaknya amat sangat aku jaga. Haruskah diri ini mengutuk jarak? Karna sungguh kelewatan dia memisahkan. Karena, Tanah dan langit terlampau jauh. Aku ingin menggengam tangannya dibumi. Memandang jernih matanya disamudra. Mengabadikan senyum indahnya dimusim semi. Tapi semua itu nyatanya hanya akan jadi mimpi. Waktu nyatanya sudah berksonspirasi dengan jarak. Membiarkan ku menanam rindu Tapi tak memberiku kesempatan menuai temu # Maaf kan aku Maaf aku yang penuh nafsu untuk memilikimu Ganggaman tangan mu mungkin tak bisa ku nyatakan, pelukan ku pasti tak akan pernah merasakan hangatnya tubuhmu. Tapi disini, dibumi ini meski aku tak bisa menyayangimu, mendekapamu, dan memanjakannmu, Biarlah doaku yang menggantikan nafsu ku dibumi, agar kau bisa merasakan cintaku lewat ramahnya jamuan penduduk langit.

Dingin

Nanjauh dimuka bumi sana Ada saatnya air membeku Lidah membiru Dan mungkin hati mereka juga membatu Itu lah dirimu dengan tatapanmu, padaku simusim dingin bagimu. Yang kulihat dari rona wajahmu Bila datang simusim semi Apakah kau tau? Pernah ada bunga yang berhasil mekar saat musim dingin bersalju Bunga itu sama seperti ukiran cahaya yang terdampar diretina mataku saat melihat sunggingan senyum bibirmu Dan kau tau apa yang bisa mewujudkan kedua hal itu? KEAJAIBAN.   Bekasi, 18 Desember 2016

Cantik Itu Luka 1

Gambar
Kau adalah keindahan, Begitulah kata cahaya yang terdampar diretinaku Tapi kau bukan hak ku Begitulah kata penjagamu # Maaf bila cantikmu itu Kupandang dengan hasrat Bukan dengan martabat. Menyeramkan bukan? # Begitulah mata lelaki Semanis apapun tutur katanya Sebaik apapun perilakunya Kau tak akan bisa mempercayai # Karna sungguh cantikmu itu luka. Untuk mu, Dan siapapun yang tidak berhak atasmu Terlebih itu aku. # Penjagamu amat ramah padaku Menyuruhku mundur Demi kemuliaanmu Dan juga keselamatanku Cimahi,18 November 2016