Langit dan Kesatria. Langit mulai mahir meniru, dia bisa jadi masakan ibu, ejekan kawan dimasa lalu, rasa bangga ayah yang disebunyikan, atau mimpi masa kecil yang sempat terlupakan. Langit juga rupanya mulai mahir menertawakan, layaknya ungkapan cinta pertama yang dipendam atau sekedar ucapan sayang pada adik perempuan yang selama ini ku bungkam Tapi langitpun mulai mengerti, bersama rintik hujan yang mewaliki kecengengan kesatria, yang pada akhirnya menemukan kembali jiwanya. Kesatria itu akan selamanya dan sedari dulu yatim serta piatu, sikapnya pembuat onar, karena kesepian yang membuatnya gusar. Langit mendung disertai rintik rintik ramah mulai membasuh jiwanya, kesepian berubah jadi sunyi yang menenangkan, kekecewaan jadi senyum penerimaan dan sumpah serapah hilang, lenyap, hangus dan tumbuh menjadi rasa tabah dan pasrah,...