Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Puisi : "Puisi"

Gambar
Puisi Puisi seperti suaraku yang mungkin tak akan pernah mampu sampai ketelingamu,  tapi ia memiliki kaki untuk berpulang dan berharap bisa menetap dihatimu.  Puisi layaknya perhatianku yang sering kamu tepis malu - malu,  tapi selalu jadi hal yang kamu tunggu - tunggu.  Puisi itu mirip tetesan air mata  bahagia ibu. Ingin aku menulis dan membacanya setiap waktu.  Puisi itu sama seperti aliran sungai,  selalu tertuju kepada muara,  untuk melapas kerinduan sebelum  kembali menguap menjadi awan.  Puisi itu bagai orang - orang yang aku sayangi,  menulis dan membacanya selalu membuatku bahagia.  Sama seperti mereka.  Yusuf Alfianto Cimahi, 29 Agustus 2017 Teruntuk orang orang yang aku sayangi,  khususnya adik perempuan ku : Aisyah Nur Hidyah.  Wahai Pendar gugusan bintang dibulan ketiga.  Semangat untuk hari - harimu.  Jaga selalu hati ibu....

Puisi : Langit Dan Kesatria

Gambar
Langit dan Kesatria.  Langit mulai mahir meniru, dia bisa jadi masakan ibu,  ejekan kawan dimasa lalu,  rasa bangga ayah yang disebunyikan,  atau mimpi masa kecil yang sempat terlupakan.  Langit juga rupanya mulai mahir menertawakan,  layaknya ungkapan cinta pertama yang dipendam  atau sekedar ucapan sayang pada adik perempuan yang selama ini ku bungkam Tapi langitpun mulai mengerti,  bersama rintik hujan yang mewaliki kecengengan kesatria, yang pada akhirnya  menemukan kembali jiwanya.  Kesatria itu akan selamanya dan sedari dulu yatim serta piatu,  sikapnya pembuat onar,  karena kesepian yang membuatnya gusar.  Langit mendung disertai rintik rintik ramah mulai membasuh jiwanya,  kesepian berubah jadi sunyi yang menenangkan,  kekecewaan jadi senyum penerimaan  dan sumpah serapah  hilang, lenyap, hangus  dan tumbuh menjadi rasa tabah dan pasrah,...